About Me

My photo
saya guru di maahad al-sabirin,ayer lanas, kelantan memberi kuliah/ceramah/tazkirah/khutbah / bengkel dsb secara percuma berminat hubungi saya di 0199923418 atau fauziamirgus@gmail.com atau fauzi15766@yahoo.com

Followers

Tuesday, December 31, 2013

Dakwah Lewat Surat

|  Surat-surat Rasulullah: Ajak Penguasa & Raja-raja Kafir Masuk Islam


Surat-surat Rasulullah: Ajak Penguasa & Raja-raja Kafir Masuk Islam




Surat-surat Rasulullah: Ajak Penguasa & Raja-raja Kafir Masuk Islam
History  (Voa-Islam) – Pada masa awal setelah diangkat sebagai utusan Allah (Rasulullah) Nabi Muhammad Saw membangun komunikasi dengan para pemimpin suku dan pemimpin negara lain. Beliau mengirim utusan yang membawa surat ajakan masuk Islam. Korespondensi melalui surat itu tujukan kepada Heraclius (kaisar Romawi), Raja Negus (penguasa  Ethiopia), dan Khusrau (penguasa Persia).
Sejarah mencatat, waktu itu Heraclius (Raja Romawi) dan Kisra (Raja Persia) merupakan dua kerajaan yang terkuat pada zamannya, dan merupakan dua orang yang telah menentukan jalannya politik dunia serta nasib seluruh penduduknya. Perang antara dua kerajaan ini berkecamuk dengan kemenangan yang selalu silih berganti.
Pada mulanya Persia adalah pihak yang menang. Ia menguasai Palestina dan Mesir, menaklukkan Baitul Maqdis (Yerusalem) dan berhasil membawa Salib Besar (The True Cross). Kemudian giliran Persia mengalami kekalahan lagi. Panji-panji Bizantium kembali berkibar lagi di Mesir, Suriah serta Palestina, dan Heraklius berhasil mengembalikan salib itu.

Kalau saja orang ingat akan kedudukan kedua kerajaan itu, mereka akan dapat mengira-ngira betapa besarnya dua nama ini, yang mendengarnya saja hati orang sudah gentar. Tiada satu kerajaan pun yang pernah berpikir hendak melawan mereka. Yang terlintas dalam pikiran orang ialah hendak membina persahabatan dengan keduanya. Jika kerajaan-kerajaan dunia yang terkenal pada waktu itu saja sudah demikian keadaannya, apalagi negeri-negeri Arab.

Yaman dan Irak waktu itu di bawah pengaruh Persia, sedang Mesir sampai ke Syam di bawah pengaruh Heraclius. Pada waktu itu Hijaz dan seluruh semenanjung jazirah terkurung dalam lingkaran pengaruh kedua imperium ini. Kehidupan orang Arab pada  masa itu hanya tergantung pada soal perdagangan dengan Yaman dan Syam. Dalam hal ini perlu sekali mereka mengambil hati Kisra dan Heraclius agar kedua kerajaan ini tidak merusak perdagangan mereka.
Disamping itu kehidupan orang-orang Arab tidak lebih daripada kabilah-kabilah, yang dalam bermusuhan, kadang keras, kadang lunak. Tak ada ikatan di antara mereka yang merupakan suatu kesatuan politik, yang dapat mereka gunakan untuk menghadapi pengaruh kedua kerajaan raksasa tersebut.

Oleh sebab itu, Rasulullah mengirimkan utusan-utusannya kepada kedua penguasa besar itu—juga kepada Ghassan, Yaman, Mesir dan Abisinia. Beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam, tanpa merasa khawatir akan segala akibat yang mungkin timbul. Dampak yang mungkin dapat membawa seluruh negeri Arab tunduk di bawah cengkeraman Persia dan Bizantium.

Akan tetapi kenyataannya, Rasulullah tidak ragu-ragu mengajak para raja itu menganut agama yang benar. Beliau mengirim utusan kepada Heraclius, Kisra, Muqauqis, Harits Al-Ghassani (Raja Hira), Harits Al-Himyari (Raja Yaman) dan kepada Najasi, penguasa Abesinia (Ethiopia). Beliau hendak mengajak mereka masuk Islam.



Para sahabat menyatakan mereka kesanggupan mereka melakukan tugas besar ini. Rasulullah kemudian membuat sebentuk cincin dari perak bertuliskan: "Muhammad Rasulullah".
Adapun surat buat Heraclius itu dibawa oleh Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, dan surat kepada Kisra dibawa oleh Abdullah bin Hudzafah. Sementara surat kepada Najasyi dibawa oleh Amr bin Umayyah, dan surat kepada Muqauqis oleh Hatib bin Abi Balta'ah.

Sementara itu, surat kepada penguasa Oman dibawa oleh Amr bin Ash, surat kepada penguasa Yaman oleh Salit bin Amr, dan surat kepada Raja Bahrain oleh Al-'Ala bin Al-Hadzrami. Sedangkan surat kepada Harith Al-Ghassani, Raja Syam, dibawa oleh Syuja' bin Wahab. Dan surat kepada Harits Al-Himyari, Raja Yaman, dibawa oleh Muhajir bin Umayyah.

Masing-masing mereka kemudian berangkat menuju tempat yang telah ditugaskan oleh Nabi. Para penulis sejarah berbeda pendapat tentang waktu keberangkatan mereka. Sebagian besar menyatakan para utusan berangkat dalam waktu yang berbarengan, sementara sebagian lagi berpendapat mereka berangkat dalam waktu yang berlainan.
Surat Untuk Heraclius
Berikut Surat Rasulullah kepada Heraclius (Raja Romawi) -- yang dibawa oleh Dihyah al-Kalbi – teksnya berbunyi:
"Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraclius pembesar Romawi. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk yang benar. Dengan ini saya mengajak tuan menuruti ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan menolak, maka dosa  orang-orang Arisiyin—Heraklius bertanggungjawab atas dosa rakyatnya karena dia merintangi mereka dari agama—menjadi tanggungiawab tuan.
Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu, yakni bahwa tak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu takkan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah. Tetapi kalau mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Islam."

 

Ketika Rasulullah Saw mengirim surat kepada Kaisar Heraclius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan kemenangannya atas Negeri Persia.
Begitu menerima surat dari Rasulullah Saw, Sang Kaisar pun berkeinginan untuk melakukan penelitian guna memeriksa kebenaran kenabian Muhammad Saw. Lalu Kaisar memerintahkan untuk mendatangkan seseorang dari Bangsa Arab ke hadapannya. Abu Sufyan ra, waktu itu masih kafir, dan rombongannya segera dihadirkan di hadapan Kaisar.
Abu Sufyan pun diminta berdiri paling depan sebagai juru bicara karena memiliki nasab yang paling dekat dengan Rasulullah Saw. Rombongan yang lain berdiri di belakangnya sebagai saksi. Itulah strategi Kaisar untuk mendapatkan keterangan yang valid.

Maka berlangsunglah dialog yang panjang antara Kaisar dengan Abu Sufyan ra. Kaisar Heraclius adalah seorang yang cerdas dengan pengetahuan yang luas. Beliau bertanya dengan taktis dan mengarahkannya kepada ciri seorang nabi. Abu Sufyan ra juga seorang yang cerdas dan bisa membaca arah pertanyaan Sang Kaisar. Namun beliau dipaksa berkata benar walaupun berusaha memberi sedikit bias.

Di akhir dialog Sang Kaisar mengutarakan pendapatnya. Inilah ciri-ciri seorang nabi menurut pandangannya dan sebagaimana telah dia baca di dalam Injil. Ternyata semua ciri yang tersebut ada pada diri Rasulullah Saw.
Kaisar Heraclius telah mengetahui tentang Rasulullah Saw dan membenarkan kenabian beliau dengan pengetahuan yang lengkap. Akan tetapi ia dikalahkan rasa cintanya atas tahta kerajaan, sehingga ia tidak menyatakan keislamannya. Ia mengetahui dosa dirinya dan dosa dari rakyatnya sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw.
Dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya Kaisar bisa mengetahui kebenaran kenabian Rasulullah Saw. Bahkan Kaisar menyatakan : “Dia (maksudnya Rasulullah Saw) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini.” Saat itu Kaisar sedang dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.

Abu Sufyan ra menceritakan dialog ini setelah masuk Islam dengan keislaman yang sangat baik, sehingga hadits ini diterima. Kaisar lalu memuliakan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby dengan menghadiahkan sejumlah harta dan pakaian. Kaisar pun memuliakan surat dari Rasulullah Saw, namun ia lebih mencintai tahtanya. Akibatnya, di dunia, Allah Swt memanjangkan kekuasaannya. Namun dia harus mempertanggungjawabkan kekafirannya di akhirat kelak.
Surat Untuk Muqouqis (Penguasa Mesir)
Kemudian Rasululullah Saw juga mengirim surat kepada Gubernur Mesir Muqauqis. Berikut Surat untuk Muqouqis, Gubernur Mesir:
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusanNya kepada Muqauqis raja Qibthi. Keselamatan bagi orang yang mengiktui petunjuk. Amma ba’du: Aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Alah pahala dua kali. Jika kau menolak maka atasmu dosa penduduk Qibthi.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS ali Imran 3:64). (Al-Mawahib al Laduniyah).”

 

Surat untuk Raja Habasyah Najasyi (Ethiopia)
Selanjutnya, Rasulullah Saw mengirimkan surat kepada Raja Habasyah, Najasi. Berikut Surat Nabi kepada Raja Habsyah Najasyi.
“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusa Allah kepada Najasyi raja Habasyah, keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.
Amma ba’du: Aku memuji Allah padamun yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Menguasai, Maha Suci, Maha Penyelamat, Maha Pemberi Aman dan Maha Pembeda. Aku bersaksi bahwa Isa anak Maryam ruh Allah, dan firmanNya yang diberikan kepada Maryam yang suci lagi perawan, lalu ia hamil dari ruh dan tiupannya, sebagaimana Ia menciptakan Adam dengan tanganNya.
Aku mengajakmu kepada Allah yang Esa, yang tidak ada sekutu bagiNya, mematuhi dengan ketaatan kepadaNya dan untuk mengikutiku dan mempercayai apa yang aku bawa. Aku Rasulullah, aku mengajakmu dan para pasukanmu kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. Aku telah menyampaikan pesan dan memberi nasehat, maka terimalah nasehatku. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk. (Thabaqut Ibnu Sa’ad).

 


Surat Untuk Raja Raja Persia (Raja Khosrau II/Kisra Abrawaiz)
Lalu Rasullah juga mengirim surat kepada Raja Persia
Berikut Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz:
“Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi siapa yang hidup. Masuklah Islam maka kau akan selamat, dan jika kau mengabaikannya maka atasmu dosa orang orang Majusi.” (Sumber: hadist Ibnu Abbas yang di-takhrij oleh Bukhari dan oleh Ahmad).  



Ketika Rasulullah Saw mengirim surat kepada Kisra Abrawaiz raja dari Negeri Persia dan menyerunya kepada Islam. Namun ketika surat itu dibacakan kepada Kisra, ia pun merobeknya sambil berkata, ”Budak rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku”.

Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah Saw, beliaupun mengatakan, ”Semoga Allah mencabik-cabik kerajaannya.” Doa tersebut dikabulkan. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian iapun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Ia dibunuh dan dirampas kekuasaannya.

Seterusnya kerajaan itu kian tercabik-cabik dan hancur sampai akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab ra hingga tidak bisa lagi berdiri. Selain itu Kisra masih harus mempertanggung-jawabkan kekafirannya di akhirat kelak.

(Desastian/dari berbagai sumber).

 http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2011/12/25/17183/suratsurat-rasulullah-ajak-penguasa-rajaraja-kafir-masuk-islam/#sthash.V36MgDcQ.dpbs

Surat-surat Rasulullah: Ajak Penguasa & Raja-raja Kafir Masuk Islam

History  (Voa-Islam) – Pada masa awal setelah diangkat sebagai utusan Allah (Rasulullah) Nabi Muhammad Saw membangun komunikasi dengan para pemimpin suku dan pemimpin negara lain. Beliau mengirim utusan yang membawa surat ajakan masuk Islam. Korespondensi melalui surat itu tujukan kepada Heraclius (kaisar Romawi), Raja Negus (penguasa  Ethiopia), dan Khusrau (penguasa Persia).
Sejarah mencatat, waktu itu Heraclius (Raja Romawi) dan Kisra (Raja Persia) merupakan dua kerajaan yang terkuat pada zamannya, dan merupakan dua orang yang telah menentukan jalannya politik dunia serta nasib seluruh penduduknya. Perang antara dua kerajaan ini berkecamuk dengan kemenangan yang selalu silih berganti.
Pada mulanya Persia adalah pihak yang menang. Ia menguasai Palestina dan Mesir, menaklukkan Baitul Maqdis (Yerusalem) dan berhasil membawa Salib Besar (The True Cross). Kemudian giliran Persia mengalami kekalahan lagi. Panji-panji Bizantium kembali berkibar lagi di Mesir, Suriah serta Palestina, dan Heraklius berhasil mengembalikan salib itu.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2011/12/25/17183/suratsurat-rasulullah-ajak-penguasa-rajaraja-kafir-masuk-islam/#sthash.V36MgDcQ.dpuf

topi

Topi Tahun Baru Sanbenito (bentuk kon) dan Murtadnya Orang Islam Andalusia

Setiap pergantian tahun baru Masehi, trompet dan topi kon tidak boleh ditinggalkan. Di balik semua itu, ada sejarah yang tersimpan berkaitan dengan umat Muslim di masa lalu.
Topi Sanbenito
Dalam kajian Kristologi yang disampaikan Irena Handono, semasa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela (keduanya penganut Kristian) berkuasa di Andalusia, ketika itu kaum Muslimin dibunuh tetapi memberi jaminan hidup kepada orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar dari Islam.
Maka untuk membezakan yang mana sudah murtad dan yang mana belum keluar dari Islam adalah dengan mengenal pasti seseorang muslim itu memakai baju seragam dan topi berbentuk kon dengan nama Sanbenito. Jadi, Sanbenito adalah sebuah tanda berupa pakaian khusus untuk membezakan individu yang telah keluar dari agama Islam ( murtad ).

Ketika itu umat Islam di Andalusia dibunuh, kecuali bagi mereka yang memakai topi Sanbenito. Topi itu digunakan semasa keluar rumah termasuk ketika ke pasar. Dengan menggunakan sanbenito, mereka selamat dan tidak akan dibunuh.

Selepas pembunuhan selesai, agenda Ratu Isabela selanjutnya adalah mengejar orang Islam yang lari dan bersembunyi ke Amerika Selatan. Orang Islam yang ditangkap lalu diseret ke lembaga inkuisi (penyeksaan) yang dilaksanakan oleh orang gereja. Adapun paderi pertama yang dilantik Ferdinand dan Isabela untuk melaksanakan penyeksaan tersebut adalah paderi bernama Torquemada. Dia adalah Pengarah Yahudi yang dikenali sebagai pembunuh umat Islam Andalusia.

Bukan hanya orang Islam sahaja yang diseret ke lembaga penyiasatan, tapi juga orang Yahudi yang menolak masuk Kristian. Di tanah lapang, ada yang dibakar hidup-hidup, ada pula yang diseksa dengan kayu yang diruncingkan sehingga punggungnya akan tertusuk. Penyeksaan lain seperti mematahkan tulang kaki berlaku.

Selepas enam abad peristiwa kejam tersebut, berjuta-juta umat Muslim di dunia mengenakan topi kon Sanbenito ketika menyambut tahun baru Masehi. Ketika pergantian tahun, mereka dengan wajah gembira membunyikan trompet, teeeeet ! dan sama sekali tidak faham makna topi di kepalanya itu.

*Diterjemahkan oleh Detik Islam dari sumber islampos.com / Gambar sumber dari Google

Soalan

Jika anda bercakap dengan orang Syiah, kemukakan 10 soalan ini

Kalau anda bercakap dengan orang Syiah atau ingin mengajak orang Syiah bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syiah atau anda mula dipengaruhi dai-dai Syiah cuba kemukakan 10 soalan asas di bawah ini. Sehingga kita boleh membuktikan, bahawa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.

Soalan 1: "Nabi dan Ahlul Bait"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Adakah anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?" Dia pasti akan menjawab: "Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami. "Kemudian tanyakan lagi:" Benarkah anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi? "Dia tentu akan menjawab:" Ya, demi Allah! "

Lalu katakan kepada dia: "Ahlul Bait Nabi adalah ahli keluarga Nabi. Kalau orang Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah 'Alaihi Wasallam lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi? "

Nuffnang Ads
Faktanya, ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya berpunca dari Fatimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syiah memuliakan Ahlul Bait kerana mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: "Lebih memilih kulit rambutan daripada isi buahnya."

Soalan 2: "Ahlul Bait dan Isteri Nabi"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Siapa yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?" Nanti dia akan menjawab: "Ahlul Bait Nabi adalah Fatimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka." Lalu tanyakan lagi: "Bagaimana dengan isteri- isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafsah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan? "Dia akan mengemukakan dalil, bahawa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fatimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.

Kemudian tanyakan kepada orang itu: "Bagaimana boleh anda memasukkan anak saudara Nabi (Ali) sebagai sebahagian dari Ahlul Bait, sementara isteri-isteri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana boleh cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara isteri-isteri yang biasa tidur bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana boleh Fatimah lahir ke dunia, jika tidak melalui isteri Nabi, iaitu Khadijah Radhiyallahu 'Anha? Bagaimana boleh Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui isteri Ali, iaitu Fathimah? Tanpa kehadiran para isteri solehah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi. "

Faktanya, dalam Surah Al Ahzab ayat 33 disebutkan: "Innama yuridullahu li yudzhiba 'ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira." (Bahawa Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya). Dalam ayat ini isteri-isteri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan Ummul Mu'minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu 'anhunna.

Soalan 3: "Islam dan Sahabat"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Adakah anda beragama Islam?" Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: "Tentu sahaja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim. "Lalu tanyakan lagi:" Bagaimana cara Islam sampai kepada anda, sehingga anda menjadi seorang Muslim? "Maka orang itu akan menerangkan tentang salasilah dakwah Islam. Bermula dari Rasulullah, lalu para sahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para pendakwah ke seluruh dunia, hingga sampai kepada negara. "

Kemudian tanyakan kepada dia: "Jika anda mempercayai salasilah dakwah Islam itu, mengapa anda sangat membenci para sahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melalui tangan para sahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan sahabat. Jika demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para sahabat? "

Faktanya, kaum Syiah sangat mengelirukan. Mereka mencaci-maki para sahabat Radhiyallahu 'Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci sahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah pepatah yang harus selalu diingat: "Tidak ada Islam, tanpa peranan para sahabat!"

Soalan 4: "Mengenai Imam Syiah"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Apakah anda meyakini adanya imam dalam agama?" Dia pasti akan menjawab: "Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami. "Lalu tanyakan lagi:" Siapa imam-imam yang anda yakini sebagai teladan dalam agama? "Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja'fariyyah).

Lalu tanyakan kepada orang Syiah itu: "Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak disenaraikan nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafie, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah? Apakah orang Syiah meragukan keilmuan empat imam mazhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam mazhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah? "

Faktanya, kaum Syiah tidak mengiktiraf empat imam mazhab sebagai sebahagian daripada imam-imam mereka. Kaum Syiah mempunyai salasilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan "Imam 12" atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahawa Syiah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi ini sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam Al Arba'ah, maka yang dimaksudkan adalah empat imam mazhab rahimahumullah.

Soalan 5: "Allah dan Imam Syiah"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Siapa yang lebih anda taati, Allah Taala atau imam Syiah?" Tentu dia akan akan menjawab: "Jelas kami lebih taat kepada Allah." Lalu tanyakan lagi: "Mengapa anda lebih taat kepada Allah?" Mungkin dia akan menjawab: "Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sewajarnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu. "

Kemudian tanyakan kepada orang itu: "Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah mengapa anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al-Quran)? Mengapa orang Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syiah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al-Quran? "

Faktanya, sikap ideologi kaum Syiah lebih dekat kepada kemusyrikan, kerana mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surah An-Nisaa 'ayat 59 disebutkan, jika berlaku satu saja pertikaian, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islam, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.

Soalan 6: "Ali dan jawatan Khalifah"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Menurut anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jawatan Khalifah selepas Rasulullah wafat?" Dia pasti akan menjawab: "Ali bin Abi Talib lebih berhak menjadi Khalifah." Lalu tanyakan lagi: "Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Uthman? "Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi:" Menurut riwayat ketika peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahawa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan. "

Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: "Jika memang Ali bin Abi Talib yang paling berhak atas jawatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menyalah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Uthman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jawatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah mengkritik Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Uthman, padahal dia mempunyai kuasa? Kalau menyalahkan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Talib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu. "

Faktanya, Husein bin Ali Radhiyallahu 'Anhuma berani menggugat kepimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali Radhiyallahu 'Anhu lebih berani melakukan hal itu.

Soalan 7: "Ali dan Husein"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Menurut anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?" Maka dia akan menjawab: "Tentu sahaja Ali bin Abi Talib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak peperangan di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam. "Atau boleh saja ada pendapat di kalangan Syiah bahawa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan kepada dia: "Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tarikh 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Talib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat ketika memikul tugas sebagai Khalifah. "

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti "Aidil Fitri" bagi kaum Syiah. Hal itu bagi memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Talib Radhiyallahu 'Anhu lebih dahsyat lagi.

Soalan 8: "Syiah dan Wanita"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan wanita?" Dia akan menjawab tanpa keraguan: "Tentu sahaja. Kami diajar memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzalimi hak-hak mereka? "Lalu tanyakan lagi:" Benarkah ajaran Syiah memberi tempat penting bagi kaum wanita Muslimah? "Orang itu pasti akan menegaskan kembali.

Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: "Jika Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut'ah? Bukankah nikah mut'ah itu sangat menzalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut'ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak mempunyai hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak boleh menyaman suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Kedudukan wanita dalam ajaran Syiah lebih buruk dari kedudukan haiwan ternakan. Haiwan ternakan yang hamil dipelihara baik oleh para penternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil selepas nikah mut'ah, disuruh memikul risiko sendiri. "

Faktanya, kaum Syiah sama sekali tidak memberi tempat penting bagi kaum wanita. Hal ini berbeza sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Iraq, Lubnan, dll. Amalan nikah mut'ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal intepatinya sama, iaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na'udzubillah wa na'udzubillah min dzalik.

Soalan 9: "Syiah dan Politik"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Dalam pandangan anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?" Tentu dia akan berkata: "Agama yang lebih penting. Politik hanya sebahagian daripada agama. "Lalu tanyakan lagi:" Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama? "Mungkin dia akan menjawab:" Ya tidak boleh. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama. "

Lalu katakan kepada orang Syiah itu: "Kalau perkataan anda benar, mengapa dalam ajaran Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syiah, melebihi kepentingan urusan akidah, ibadah, fiqh, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah? "

Faktanya, ajaran Syiah merupakan contoh telanjang ketika agama dijajah (ruang tambahan) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan bahan politiknya tertumpu pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syiah. Dalam hal ini akidah Syiah mirip sekali dengan konsep Holocaust yang dibangunkan Zionis antarabangsa, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan bererti pro Nazi, tetapi di sana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).

Soalan 10. "Syiah dan Sunni"

Tanyakan kepada orang Syiah: "Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syiah kepada Sunni melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)? "Dia tentu akan menjawab:" Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua bersaudara, kerana kita sama-sama mengerjakan solat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat. "

Kemudian katakan kepada dia: "Kalau Syiah benar-benar mahu ukhuwwah, mahu bersaudara, mahu bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Usman, isteri-isteri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafsah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para sahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni. "

Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Iraq, Syria, Yaman, Lebanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahawa Syiah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestin yang menjadi pelarian di Iraq, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah. 

Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah fikiran tentang Syiah. Jika sebelum ini beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahawa perbezaan antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan. Dalam lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahawa kaum Syiah tidak pernah terlibat perang melawan negara-negara kafir. Justeru mereka sering bekerjasama dengan negara kafir dalam rangka menghadapi kaum Muslimin. 

Hancurnya Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid di Mesir, era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Uthmaniyah, di atas semua itu terakam fakta-fakta pengkhianatan Syiah terhadap kaum Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentera Bersekutu di era moden, tidak lepas dari jasa-jasa para anasir Syiah dari Iran.

Demikianlah 10 soalan asas yang boleh kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syiah. Insya Allah tulisan ini boleh dimanfaatkan untuk secara praktikal melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda Syiah. Amin Allahumma amin.

Jika ada benarnya, hal itu semata merupakan kurniaan Allah Azza Wa Jalla. Kalau ada kesalahan, khilaf, dan kekurangan, itu dari diri saya sendiri. Wal 'Afwu minkum katsira, wastaghfirullaha li wa lakum, wa li sa'iril Muslimin. Alhamdulillahi Rabbil 'alamiin, wallahu a'lam bisshawaab.
Diterjemahkan dari sumber islampos.com

Syiah

Pandangan tegas Imam Syafie terhadap Syiah


Mazhab Syafie diasaskan oleh Muhamad bin Idris Al-Syafie. Beliau dilahirkan pada tahun 150 hijrah di sebuah bandar yang bernama Ghizah di Palestin. Inilah tarikh paling masyhur dikalangan ahli sejarah. Imam Syafie juga tergolong dalam jalur keluarga Rasulullah, dia termasuk dalam Bani Mutalib iaitu keturunan dari al-Mthalib, saudara dari Hasyim yang merupakan datuk Muhammad.

Beliau seorang miskin, tetapi kaya dengan semangat dan bercita-cita tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau banyak mengembara dalam menceduk dan menimba ilmu. Ketika berumur 20 tahun, Imam Syafie pergi ke Madinah untuk berguru dengan ulama besar ketika itu, Imam Malik. Antara guru Imam Syafie selain Imam Malik ialah mufti dan faqih Mekah iaitu Muslim bin Khalid az-Zanji, dan Syaikhul Muhaddisin Sufyan bin Uyaynah.


Ilmu fiqh Imam Syafie adalah ikatan sunnah dan qias serta pemikiran dengan beberapa pertimbangan dan sekatan. Hal ini demikian kerana ilmu fiqh yang menetapkan cara atau peraturan untuk memahami al-Quran dan hadis. Ia juga menetapkan kaedah pengeluaran hukum dan kesimpulannya.
Imam Syafie sebagai ulama sunni mempunyai pandangan yang tegas terhadap Syiah. Berikut beberapa di antaranya:

1. Dari Yunus bin Abdila'la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafie, apabila disebut nama Syiah Rafidhah, maka dia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: "Kelompok terjelek! (Terbodoh) ". (Al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi'i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

2. Al-Imam Asy-Syafie berkata: "Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi / bersumpah palsu (berdusta) dari Syiah Rafidhah." (Adabus Syafi'i, m / s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi'i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

3. Al-Buwaitiy (murid Imam Syafie)  bertanya kepada Imam Syafie, "Bolehkah aku solat di belakang orang Syiah?" Imam Syafie berkata, "Jangan solat di belakang orang Syiah, orang Qadariyyah, dan orang Murji'ah "Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafie menyifatkan," Siapa saja yang mengatakan Abu Bakar dan Umar bukan imam, maka dia Syiah ". (Siyar A'lam Al-Nubala 10/31)

4. Asy-Syafie berkata tentang seorang Syiah Rafidhah yang ikut berperang: "Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa'i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami". (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa'i). "(At-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi'i fi Itsbat al- aqidah, 2/487)

5. Imam as-Subki Rahimahullah berkata, 'Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi'i) bahawa tidak boleh solat di belakang Rafidhah.' (Fatawa as-Subki (II / 576), lihat juga Ushulud Din (342).

Diterjemahkan oleh Detik Islam dari sumber islampos.com (pandangan yang tegas terhadap Syiah) & disusun dari pelbagai sumber.

Tetamu