About Me

My photo
saya guru di maahad al-sabirin,ayer lanas, kelantan memberi kuliah/ceramah/tazkirah/khutbah / bengkel dsb secara percuma berminat hubungi saya di 0199923418 atau fauziamirgus@gmail.com atau fauzi15766@yahoo.com

Followers

Saturday, June 9, 2012

Isra Mikraj 2


Isra’ & Mikraj- petikan daripada buku...

Utusan Pertama Menemui Rasulullah saw

Pada saat Rasulullah saw dan para sahabat sedang menghadapi siksaan dan gangguan
dari kaum Quraisy, datanglah utusan dari luar Mekkah menemui Rasulullah saw ingin
mempelajari Islam. Mereka berjumlah tiga puluh orang lebih semuanya lelaki dari kaum
Nasrani Habsyiah, datang bersama Ja’far bin Abu Thalib. Setelah bertemu dengan Rasulullah
saw dan mengetahui sifat-sifatnya, serta mendengar ayat-ayat al-Quran yang dibacakan kepada
mereka, segeralah mereka beriman semuanya.

Ketika berita ini sampai kepada Abu Jahal, seera ia mendatangi mereka seraya berkata,“
Kami belum pernah melihat utusan yang paling bodoh kecuali kamu! Kamu diutus oleh
kaummu untuk menyelidiki orang ini, tetapi belum sempat kamu duduk dengan tenang di
hadapannya, kamu sudah melepas agamamu, dan membenarkan apa yang diucapkannya.“
Jawab mereka,“ Semoga keselamatan atasmu. Kami tidak mau bertindak bodoh seperti kamu.
Biarlah kami mengikuti pendirian kami, dan kamu pun bebas mengikuti pendirianmu. Kami
tidak ingin kehilangan kesempatan yang baik ini.“
Berkatan dengan peristiwa itu Allah menurunkan firman-Nya :
Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka al-Kitab sebelum al-Quran , mereka
beriman (pula) dengan al-Quranitu . Dan apabila dibacakan (al-Quran itu ) kepada mereka,
mereka berkata,“ Kami beriman kepadanya, sesungguhnya al-Quran itu adalah sesuatu
kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang
membenarkan-nya.“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan
merekamenolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rejekikan
kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak
bermanfaat mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata ,“ Bagi kami amal-amal kami,
dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan         orang-orang bodoh.“ QS al-Qashash : 52-55

Beberapa Ibrah
Berkaitan dengan utusanini ada dua masalah penting yang menarik perhatian kita :
Pertama :
Bahwa kedatangan utusan itu ke Mekkah untuk menemui Rasulullah saw dan mempelajari
Islam, pada sat-saat kaum Muslimin sedang menghadapi siksaan, gangguan, pemboikotan, dan
tekanan, merupakan bukti nyata bahwa penderitaan dan musibah ynag dialami oleh para aktivis
dakwah tidak berarti sama sekali sebagai suatu kegagalan. Di samping tidak boleh menjadi
lemah atau putus asa. Bahkan siksaan dan gangguan, sebagaimana telah kami katakan,
merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai keberhasilan dan kemenangan. Utusan
dari Nasrani Habasyiah yang berjumlah tiga puluh orang atau dalam riwayat lain dikatkaan
empat puluh orang lebih, datang dari negeri seberang kepada Rasulullah saw untuk menyatakan
wala’ (dukungan) kepada dakwah baru (Islam). Juga secara de fakto menyatakan bahwa musuh-musuh dakwah Islam tidak akan mampu kendatipun melancarkan berbagai tekanan teror,
sisksaan, dan intimidasi keapda para aktivisnya menghalangi keberhasilannya atau menahan
penyebarannya ke berbagai penjuru dunia.
Dan seolah-olah Abu Jahal telah mengetahui hakekat ini, sehingga terlihat nyata
pengaruhnya pada jiwa dan ucapannya yang busuk yang ditujukan kepada utusan tersebut.
Tetapi apa yang dapat ia lakukan ? Sesuatu yang dapat ia lakukan hanyalah meningkatkan
penyiksaan dan teror kepada kaum Muslimin. Dia dan orang-orang yang sepertinya tidak akan
mampu menghalangi keberhasilan dan tersebarnya dakwah Islam.

Kedua :
Apakah jenis keimanan para utusan tersebut ? Apakah dari jenis keimanan orang yang keluar
dari kegelapan kepada cahaya terang ?
Sesungguhnya keimanan mereka hanyalah kelanjutan dari keimanan yang terdahulu, dan
sekedar melaksanakan konsekuensi dari aqidah yang dianutnya. Mereka adalah (menurut istilah
para perawi Sirah) para panganut Injil yang beriman dan mengikuti petunjuknya . Karena Injil
memerintahkan agar mengikuti Rasul yang datang sesudah Isa as, maka sebagai konsekuensi
keimananya ialah mengimani Nabi ini, yaitu Muhammad saw.
Dengan demikian keimanan mereka kepada Rasulullah saw bukan proses perindahan
dari suatu agama kepada agama lain yang lebih baik. Tetapi hanya merupakan kelanjutan dari
hakekat keimanan kepada Isa as dan ajarannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam
firman-Nya :
„Dan apabila dibacakan (al-Quranitu ) kepada mereka, mereka berkata,“ Kami beriman
kepadanya, sesungguhnya al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya
kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).“ QS Al-Qashash : 53

Yakni kami sebelumnya telah membenarkan dan mengimani ajaran yang diserukan oleh
Muhammad saw, sebelum bi’tsahnya, karena ajaran itu termasuk yang diperintahkan oleh Injil
untuk mengimaninya.

Demikianlah sikap setiap orang yang benar-benar berpegang teguh kepada ajaran yagn
dibawa oleh Isa as atau Musa as. Karena itu Allah memerintahkan Rasul-Nya agar dalam
mengajak ahli Kitab kepada Islam cukup dengan menuntut pelaksanaan ajaran yang terdapat di
dalam Taurat dan Injil yang mereka imani. Firman Allah :
„Katakanlah „Hai ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun sehingga kamu
menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil....“ QS al-Ma’idah : 68

Ini merupakan penegasan terhadap apa yang telah kami jelaskan , bahwa ad-Dinul Haq
( agama yang benar) itu hanya satu semenjak Adam as hingga Nabi Muhammad saw. Perkataan
„agama-agama langit“ yang sering kita dengar adalah tidak benar. Ya, memang terdapat syariat-syariat langit yang beraneka ragam dan setiap syariat langit menghapuskan syariat sebelumnya. Tetapi tidak boleh disamakan antara ad-Din atau aqidah dengan syariat yang bearti hukum-hukum amaliah yang berkaitan dengan peribadatan atau mu’amalah.


Tahun Duka Cita
Pada tahun kesepuluh kenabian, istri Nasbi saw, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya , Abu Thlaib , wafat. Berkata Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya : Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib hanya satu bulan lima hari. Khadija r.a. sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam adalah menteri kebenaran untuk Islam. Pada saat-saat Rasulullah saw menghadapi masalah-masalah berat, beliaulah yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya. Akan halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah saw dalam menghadapi kaumnya.

Berkata Ibnu Hisyam : Setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy bertambah leluasa
melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah saw, sampai orang awam Quraisy pun berani
melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah saw. Sehingga pernah Rasulullah saw pulang
ke rumah berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit dan membersihkan
kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Tetapi Rasulullah saw berkata kepadanya, “Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.“
Nabi saw menamakan ini sebagai„ tahun duka cita, karena begitu berat dan hebatnya
penderitaan di jalan dakwah pada tahun ini.


Beberapa Ibrah
Perhatikanlah , apa sebenarnya hikmah dan rahasia Allah dalam mempercepat kematian
Abu Thalib, sebelum terbentuknya kekuatan dan masih sedikitnya pertahanan kaum Muslimin
di Mekkah? Padahal seperti telah diketahui, Abu Thalib banyak memberikan pembelaan
kepada Rasulullah saw . Demikian pula, apa hikmah dan rahasia Allah dalam mempercepat
kematian Khadijah r.a.? Padahal Rasulullah saw masih sangat memerlukan orang yang selalu
menghibur dan membesarkan hatinya, atau meringankan beban-beban penderitaannya?

Di sini nampak suatu fenomena penting yang berkaitan dengan prinsip aqidah Islam.
Seandainya Abu Thalib berusia panjang mendampingi dan membela Rasulullah saw
sampai tegakknya negara Islam di Madinah, dan selama itu Rasulullah saw dapat terhindar dari
gangguan kaum musyrik, niscaya akan timbul kesan bahwa Abu Thlaib adalah tokoh utama
yang berada di balik layar dakhwa ini. Dialah yang dengan kedudukannya dan pengaruhnya ,
seolah-olah memperjuangkan dan melindungi dakwah Islam, kendatipun tidak menampakkan
keimanan dan keterikatannya kepada dakwah Islam. Atau tentu muncul analiya panjang lebar
yang menjelaskan „nasib baik“ yang diperoleh Rasulullah saw pada saat melaksanakan
dakwahnya lantaran pembelaan pamannya. Sementara nasib baik ini tidak diperoleh kaum
Muslimin yang ada di sekitarnya. Seolah-olah, ketika semua orang disiksa dan dianiaya, hanya
beliaulah yang terbebas dan terhindar.

Sudah menjadi ketentuan Ilahi bahwa Rasulullah saw harus kehilangan orang yang
secara lahiriah melindungi dan mendampinginya. Abu Thalib dan Khadijah. Ini antara lain untuk
menampakkan dua hakekat penting.
Pertama, sesungguhnya perlindungan itu , pertolongan dan kemenangan itu hanya datang dari
Allah swt. Allah telah berjanji untuk melindungi Rasul-Nya dari kaum musyrik dan musuh-musuhnya. Karena itu , dengan atau tanpa pembelaanmanusia, Rasulullah saw tetap akan dijaga
dan dilindungi oleh Allah, dan bahwa dakwahnya pada akhirnya akan mencapai kemenangan.

Kedua, ‘ishmah (perlingungan dan penjagaan) di sini tidka berarti terhindar dari gangguan,
penyiksaan atau penindasan. Tetapi arti ‘ishmah (perlindungan) yang dijanjikan Allah dalam
firman-Nya :
Allah melindungi dari (ganggungan) manusia ,“QS al-Ma’idah : 67

Ialah perlindungan dari pembunuhan atau dari segala bentuk rintangan dan perlawanan
yang dapat menghentikan dakwah Islam. Ketetapan Ilahi bahwa para Nabi dan Rasul-Nya
harus merasakan aneka ragam gangguan dan penyiksaan tidak bertentangan dengan prinsip
‘ishmah yang dijanjikan oleh Allah kepada mereka. Oleh sebab itu setelah ayat :
„Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara
kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok kamu.“ QS al-Hijr 94-95

Allah berfirman kepada Rasulullah saw :
„Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui , bahwa dadamu sempit disebabkan apa yang mereka
ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan jadilah kamu di antara orang-orang
yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).“
QS al-Hijr : 97-99

Adalah termasuk Sunnahtullah dan hikmah Ilahiyah yang sangat besar artinya bahwa
Rasulullah saw harus mengalami dan menghadapi berbagai cobaan berat di jalan dakwah.
Sebab dengan demikian para da’i pada setiap jaman akan menganggap ringan segala bentuk
cobaan berat yang ditemuinya di jalan dakwah. Seandainya Nabi saw berhasil dalam dakwahnya tnapa penderitaan atau perjuangan berat, niscaya para sahabatnya dan kaum Muslimin sesudahnya ingin berdakwah dengan santai, sebagaimana yang dilalukan oleh beliau dan merasa berat menghadapi penderitaan dan ujian yang mereka temui di jalan dakwah.
Tetapi, dengan melihat penderitaan yang dialami Rasulullah saw akan terasa ringanlah
segala beban penderitaan yang harus dihadapi oleh kaum Muslimin di jalan dakwah. Karena
dengan demikian mereka sedang merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah saw
dan berjalan di jalan yang perlah dilewati oleh beliau.

Betapapun penghinaan dan penyiksaan yang dilancarkan manusia kepada mereka, tak
akan pernah melemahkan semangat perjuangannya. Bukankah Rasulullah saw sendiri , sebagai
kekasih Allah pernah dianiaya dan dilempari kotoran pada kepalanya sehingga terpaksa harus
pulnag ke rumah dengan kepala kotor? Apalagi jika dibandingkan dengen penderitaan dan
penyiksaan yang pernah ditemui Rasulullah saw ketika berhijrah di Thaif.
Hal lain yang berkaitan dengan bagian Sirah Rasulullah saw ini ialah, munculnya
anggapan dari sementara pihak bahwa Rasulullah saw menamakan tahun ini sebagai tahun duka
cita semata-mata karena kehilangan pamannya, Abu Thalib dann istrinya, Khadija binti
Khuwailid. Dengan dalih ini, mungkin mereka lalu mengadakan acara berkabung atas kematian
seseorang selama beberapa hari dengan memasang bendera berkabung dan lain sebagainya.

Sebenarnya pemahaman dan penilaian ini keliru. Sebab Nabi saw tidak bersedih hati
sedemikian rupa atas meninggalnya paman dan istrinyanya. Rasulullah saw juga tidak menyebut
tahunini dengan tahun duka cita, semata-mata karena kehilangna sebagian keluarganya. Tetapi
karena bayangan akan tertutupnya hampir seluruh pintu dakwah Islam setelah kematian kedua
orang ini. Sebagaimana kita ketahui, pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw benyak
memberikan peluang dan jalan untuk menyampaikan dakwah dan bimbingan. Bahkan
Rasulullah saw sendiri telah melihat sebagian keberhasilannya dalam membantu melaksanakan
tugas dakwahnya.

Tetapi setelah kematian Abu Thalib peluang-peluang itu menjadi tertutup. Setiap kali
mencoba untuk menerobos selalu saja mendapatkan rintangan dan permusuhan. Kemana saja
beliau pergi , jalan selalu tertutup baginya. Tak seorangpun yang mendengarkan dan meyakini
dakwahnya. Bahkan semua orang mencemuhkan dan memusuhinya. Sehingga hal ini
menimbulkan rasa sedih ynag mendalam di hati Rasulullah saw, karena itulah kemudian tahun
ini dinamkan tahun duka cita.

Bahkan kesedihan karena keberpalingan manusia dari kebenaran yang dibawanya ini
telah sedemikian rupa mempengaruhi dirinya, sehingga untuk mengurangi kesedihan ini Allah
menurunkan beberapa ayat yang menghibur dan mengingatkannya, bahwa ia hanya dibebani
tugas untuk menyampaikan, tidak perlu menyesali diri sedemikian rupa, jika mereka tidak mau
beriman dan menyambut seruannya.

Perhatikan ayat-ayat berikut ini :
„Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu,
(janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu , akan
tetapi orang-orang yang dzalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah
didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan
dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka. Tak ada seorangpun yang dapat
mengubah kalimat-kalimat (janji ) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian
dari berita Rasul-rasul itu. Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu,
maka jika kamu dpat membuat lubang di bumi atau tangga di langit lalu kamu daapt
mendatangkan mu’jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja
Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk
orang yang jahil.“ QS al-An’am : 33-35


Hijrah Rasulullah saw ke Thaif
Setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy ,
Rasulullah saw berangkat ke Thaif mencari perlindungan dan dukungan dari bani Tsaqif dan
berharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah. Setibanya di Thaif , beliau menuju tempat para pemuka bani Tsaqif , sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah tersebut. Beliau berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Tetapi ajakan beliau terebut ditolak mentah-menta dan dijawab secara kasar. Kemudian Rasulullah saw bangkit dan meninggalkan mereka, seraya mengharap supaya mereka menyembunyikan berita kedatangannya ini dari kaum Quraisy, tetapi merekapun menolaknya.

Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melemparinya dengan batu, sehingga mengakibatkan cidera pada kedua kaki Rasulullah saw. Zaid bin Haritsah, berusaha keras melindungi beliau, tetapi kewalahan, sehingga ia sendiri terluka pada kepalanya.
Setelah Rasulullah saw sampai di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah kaum penjahat dan
para budak yang mengejarnya berhenti dan kembali. Tetapi tanpa diketahui ternyata beliau
sedang diperhatikan oleh dua orang anak Rabi’ah yang sedang berada di dalam kebun. Setelah
merasa tenang di bawah naungan pohon anggur itu, Rasulullah saw mengangkat kepalanya
seraya mengucapkan doa berikut :
„Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan
kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha
Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siaa
diriku hendak Engkau serahkan ? Kepada orang jauh ynag berwajah suram terhadapku, atau
kah kepada musuh yang akan menguasai diriku ? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka
semua itu tak kuhiraukan , karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan
kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu , yang menerangi kegelapan dan
mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan
dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun
selain atas perkenan-Mu.“

Berkat do’a Rasulullah saw itu tergeraklah rasa iba di dalam hati kedua anak lelaki Rabi’ah yang memiliki kebun itu. Mereka memanggil pelayannya seorang Nasrani, bernama Addas, kemudian diperintahkan,“ Ambilkan buah anggur, dan berikan kepada orang itu!“
Ketika Addas emletakkan anggur itu di hadapan Rasulullah saw, dan berkata kepadanya,“
Makanlah!“ Rasulullah saw mengulurkan tangannya seraya mengucapkan ,“Bismillah.“
Kemudian dimakannya. Mendengar ucapan beliau itu, Addas berkata,“Demi Allah, kata-kata itu tidap pernah diucapkan oleh penduduk daerah ini.“ Rasulullah saw bertanya,“ Kamu dari daerah mana dan apa agamamu?“ Addas menjawab,“ Saya seorang Nasrani dari daerah Ninawa ( sebuah desa di Maushil sekarang).“ Rasulullah saw bertanya lagi ,“ Apakah kamu dari negeri seorang saleh yang bernama Yunus anak Matius?“ Rasulullah saw menerangkan, Yunus bin Matius adalah saudaraku. Ia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi.“ Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah saw, lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki beliau.

Ibnu Ishaq berkata : Setelah itu Rasulullah saw meninggalkan Thaif dan kembali ke
Mekkah sampai di Nikhlah Rasulullah saw bangun pada tengah malam melaksanakan shalat.
Ketika itulah beberapa makhluk yang disebutkan oleh Allah lewat dan mendengar bacaan
Rasulullah saw. Begitu Rasulullah saw selesai shalat, mereka bergegas kembali kepada
kaumnya seraya memerintahkan agar beriman dan menyambut apa yang baru saja mereka
dengar. Kisah mereka ini disebutkan Allah di dalam firman-Nya :
„Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Quran
, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), lalu mereka berkata,                                        “Diamlah kamu (untuk mendengarkanya).“ Ketika pembacaan telah selesai , maka kembali mereka kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata ,“Hai kaumu kami sesungguh kami telah mendengarkan kitab (a-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang meyeru kepada-Nya, niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.“                                          QS al-Ahqaf : 29-31

Dan dalam firman-Nya yang lalu :
„Katakanlah (hai Muhammad),“Telah diwahyukan kepadaku bahwa telah mendengarkan
sekumpulan jin (akan al-Quran) lalu mereka berkata,“ Sesungguhnya kami telah mendengarkan
al-Quran yang menakjubkan.“ QS al-Jin : 1

kemudian Rasulullah saw bersama Zaid berangkat menuju ke Mekkah. Ketika itu Zaid bin Haritsah bertanya kepada Rasulullah saw ,“Bagaimana engkau hendak pulang ke Mekkah,
sedangkan penduduknya telah mengusir engkau dari sana?“ Beliau menjawab ,“ Hai Zaid,
sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan membela Nabi-Nya.“
Lalu Nabi saw mengutus seorang lelaki dari Khuza’ah untuk menemui Muth’am bin
‘Adi dan mengabarkan bahwa Rasulullah saw ingin masuk ke Mekkah dengan perlindungan
darinya. Keinginan Nabi saw ini diterima oleh Muth’am sehingga akhirnya Rasulullah saw
kembali memasui Mekkah.

Beberapa Ibrah
Dari peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah sw ini dan dari siksaan dan penderitaan
yang ditemuinya dalam perjalanan ini, kemudian dari proses kemblainya Rasulullah saw ke
Mekah, kita dapat menarik beberapa perlajaran berikut :
Pertama, bahwa semua bentuk penyiksaan dan penderitaan yang dialami Rasulullahs aw ,
khususnya dalam perjalanan hijrah ke Thaif ini hanyalah merupakan sebagian dari perjuangan
tabligh-nya kepada manusia.
Diutusnya Rasulullah saw bukan hanya untuk menyampakan aqidah yang benar
tentang alam dan penciptaannya, hukum-hukum ibadah, akhlak, dan mu’amalah tetapi juag
untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin kewajiban bersabar yang telah diperintahkan
Allah dan menjelaskan cara pelaksanaan sabar dan mushabarah (melipatgandakan kesabaran)
yang diperintahkan Allah di dalam firman-Nya :
„Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah
bersiap siaga dan bertawakalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“ QS Ali Imran : 200

Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita cara melaksanakan peribadatan dengan
peragaan yang bersita aplikatif , lalu bersabda :
„Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat (cara) aku shalat.

Sabda Nabi saw :
„Ambillah dariku manasik (cara pelaksanaan ibadah haji) mu.“ Jika hal ini dikaitkan dengan kesabaran, maka seolah-olah Rasulullah saw melalui kesabaran yang telah dicontohkannya, memerintahkan kepada kita,“Bersabarlah sebagaimana kamu melihat aku bersabar.“ Sebab bersabar merupakan salah atu prinsip Islam terpenting yang harus disampaikan kepada semua manusia.

Dalam memandang fenomena hijrah Rasulullah saw ke Thaif ini, mungkin ada orang
menyimpulkan bahwa Rasulullah saw telah menemui jalan buntu dan merasa putus asa,
sehingga dalam menghadapi penderitaan yang sangat berat itu ia mengucapkan doa tersebut
kepada Allah, setelah tiba di kebun kedua anak Rabi’ah.

Tetapi sebenarnya Rasulullah saw telah menghdapi penganiayaan tersebut dengan peuh
ridha, ikhlas dan sabar. Seandainya Rasulullah saw tidak sabar menghadapinya tentu beliau
telah membalas jika suka tindakan orang-orang jahat dan para tokoh Bani Tsaqif yang
mengerahkan mereka. Namun ternyata Rasulullah saw tidak melakukannya.
Antara dalil yang menguatkan apa yang kami kemukakan ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a , ia berkata :
„Wahai Rasulullah saw , pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat                   dari  peristiwa Uhud ?“ Jawab Nabi saw ,“Aku telah mengalami berbagai penganiayaan          dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah     di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak     dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang  dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata ,“ Sesungguhnya Allah telah    mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus         Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“ Nabi saw melanjutkan . Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata ,“ Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung , dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka. „
Jawab Nabi saw,“ Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan                               mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyambah Allah semata,              tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada para sahabatnya dan
ummatnya sesudahnya, kesabaran dan seni kesabaran dalam menghadapi segala macam
penderitaan di jalan Allah.
Mungkin timbul pertanyaan lain : Apa arti pengaduan yang telah disampaikan oleh
Rasulullah saw ? Apa maksud lafadzh-lafadzh doanya ynag mengungkapkan perasaan putus asa
dan kebosanan akhibat berbagai usaha dan perjuangan yang hanya menghasilkan penderitaan
dan penyiksaan ?
Jawabnya, bahwa pengaduan kepada Allah adalah ‘ibadah. Merendahkan diri kepada-
Nya dan menghinakan diri di hadapan pintu-Nya adalah perbuatan taqarrub ketaatan.

Sesungguhnya penderitaan dan musibah yang menimpah manusia mempunyai beberapa
hikmah. Antaranya, akan membawa orang yang mengalami musibah dan penderitaan itu
kepada pintu Allah dan meningkatkan ‘Ubudiyah kepada-Nya. Maka tidak ada pertentangan
antara kesabaran terhadap penderitaan dan pengaduan kepada Allah. Bahkan kedua sikap ini
merupakan tuntutan yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita . melalui kesabarannya
terhadap penderitaan dan penganiayaan, Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada kita bahwa
kesabaran ini adlah tugas kaum Muslimin secara umum, dan para da’i secara khususnya.
Melalui pengaduan dan taqarrub kepada Allah, Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada kita
kewajiban ‘ubudiyah dan segala konsekuensinya kepada kita. Perlu disadari betatapun tingginya jiwa manusia, dia tidak akan melampaui batas kemanusiaannya. Manusia selamanya tidak dapat menghindari diri dari fitrah, perasaannya, perasan senang dan sedih, perasaan menginginkan kesenangan dan tidak menghendaki kesusahan.

Ini berarti bahwa Rasulullah saw kendatipun telah mempersiapkan dirinya untuk
menghadapi berbagai penganiayaan dan penyiksaan di jalan Allah, tetapi beliau tetap memiliki
perasaan sebagai manusia, merasa sakit bila tertimpa kesengsaraan, dan merasa bahagia bila
mendapatkan kesenangan.
Tetapi Rasulullah saw rela menghadapi penderitaan berat dan meninggalkan kesenangan
demi mengharap ridhah Allah dan menunaikan kewajiban ‘ubudiyah . Di sinilah letak pemberian
pahala dan terlihatnya arti taklif (pembebanan) kepada manusia.

Kedua, jika anda perhatikan setiap peristiwa Sirah Rasulullah saw bersama kaumnya, akan
adan dapati bahwa penderitaan yang dialami oleh Rasulullah saw kadang sangat berat dan
menyakitkan. Tetapi pada setiap penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya selalu
diberikan penawar yang melegakan hati dari Allah swt. Penawar ini dimaksudkan sebagai
hiburan bagi Rasulullah saw agar faktor-faktor kekecewaan dan perasaan putus asa tidak
sampai merasuk ke dalam jiwanya.

Dalam peristiwa hijrah Rasulullah saw ke Thaif dengan segala penderitaan yang
ditemuinya, baik berupa penyiksaan ataupun kekecewaan hati, dapat anda lihat adanya penawar
Ilhi terhadap kebodohan orang-orang yang mengejar dan menganiayanya. Penawar ini
tercermin pada seorang lelaki Nasrani, Addas, ketika datang kepadanya seraya membawa
anggur, kemudian bersuimpuh di hadapannya seraya mencium kepada , kedua tangan dan
kakinya, setelah Nabi saw mengabarkan kepadanya bahwa dirinya adalah seoran g Nabi.
Peristiwa ajaib simbol-simbol takdir yang terdapat di dalam peristiwa ini! Kebaikan ,
kedermawanan dan kemuliaan datang begitu cepat memintakan ma’af atas kejahatan,
kebodohan dan kedzaliman ynag baru saja dialaminya . Kecupan mesra itu datang setelah
umpatan-umpatan permusuhan.

Sesungguhnya kedua anak Rabi’ah termasuk musuh bebuyutan Islam. Bahkan termasuk
di antara orang-orang yang mendatangi Abu Thalib, paman Rasulullah saw meinta agar Abu
Thalib menghentikan Muhammad saw atua membiarkan mereka bertarung melawan
Muhammad, sampai salah satu di antara kedua keompok hancur binasa. Tetapi naluri
kebiadaban itu berubah dengan serta merta menjadi naluri kemanusiaan yang dibawa oleh
agama ini, karena masa depan agama berkaitan erat dengan pemikiran, bukan dengan naluri.

Demikianlah , agama Nasrani datang memeluk Islam dan mendukungnya, karena satu
agama yang benar dengan agama yang benar lainnya ibarat seseorang dengan saudara
kandungnya. Jika hubungan antara dua orang bersudara itu adlaah hubungan darah, maka
hubungan antara satu agama benar dengan agama benar lainnya adalah hubungan akal dan
pemahaman yang benar. Kemudian takdir Ilahi menyempurnakan simbolnya di dalam kisah ini dengan pemetikkan buah anggur sebagai makanan yang manis dan memuaskan. Setangkai anggur yang telah dipetik ini menjadi simbol bagi ikatan Islam yang agung dan penuh kasih sayang, setiap buah anggur melambangkan sebuah pemerintahan Islam.

Ketiga, apa yang dilakukan oleh Zaid bin Haritsa, yaitu melindungi Rasulullah saw dengan
dirinya dari lemparan batu orang-orang bodoh bani Tsaqif sampai kepalanya menderita
beberapa luka , merupakan contoh yang harus dilakukan oleh setiap kaum Muslimin dalam
bersikap terhadap pemimpin dakwah. Ia harus melindungi pemimpin dakwah dengan dirinya
sekalipun harus mengorbankan kehidupannya.

Demikianlah sikap para sahabat terhadap Rasulullah saw. Sekalipun beliau sudah tidak
ada di antara kita sekarang, namun kita dapat melakukannya dalam bentuk yang lain, yaitu,
dengan kesiapan diri kita dalam menghadapi segala penderitaan dan penyiksaan di jalan dakwah
Islam, dan menyumbangkan perjuangan berat sebagaimana pernah dilakukan Rasulullah saw.
Tetapi setiap jaman dan masa harus ada para pemimpin dakwah Islam yang menggantikan kepemimpinan Nabi saw dalam berdakwah, di mana prajurit yang setia dan ikhlas di sekitar mereka mendukung para pemimpin terssebut dengan harta dan jiwa sebagaimana yang telah dilakukan kaum Muslimin kepada Rasulullah saw.

Keempat, apa yang dikisahkan oleh Ibnu Ishaq tentang beberapa jin yang mendengarkan
bacaan Rasulullah saw ketika sedang melakukan shalat malam di Nikhlah, merupakan dalil
bagi eksistensi jin , dan bahwa mereka mukallaf (dibebani kewajiban melaksanakan syariat
Islam). Antara mereka terdapat jin-jin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya , di
samping mereka yang ingkar dan tidak beriman. Dalil ini telah mencapai tingkatan qath’i (pasti)
dengan disebutkannya di dalam beberapa nash al-Quran yang jelas, seperti beberapa ayat pada
awal seurat al-Jin dan seperti firman Allah di dalam surat al-Ahqaf :
„Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan            al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata ,“Diamlah kamu
(untuk mendengarkannya).“ Ketika pembacaaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya
(untuk) memberi peringatan. Mereka berkata :“ Hai kaum kami , sesungguhnya kami telah
mendengarkan kitab (al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa ynag membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada pendengaran dan kepada jalan yang lurus. Hai
kaum kami , terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari ahzab yang
pedih.“ QS al-Ahqaf : 29-31

ketahuilah bahwa kisah yang disebutkan Ibnu Ishaq dan diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam
di dalam Sirahnya ini, juga disebutkan oleh Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi dengan teks yang
hampir sama dengan tambahan rincian sedikit. Dan berikut ini teks yang diriwayatkan oleh
Bukhari dengan sanadnya dari Ibnu Abbas :

„Bahwa Nabi saw berangkat bersama sejulah sahabatnya menuju pasar ‘Ukazh . Dalam pada
itu, setan-setan iut kembali. Mereka bertanya-tanya,“Mengapa kita dihalangi dari memperoleh
kabar langit dan dilempari dengan beberapa bintang?“ Dijawab,“ Tidak ada yang menghalangi
kamu dari memperoleh kabar langit kecuali apa yang telah terjadi. Maka pergilah ke segala
penjuru dunia, dari ujung timur sampai ke ujung barat, dan perhatikanlah peristiwa apakah
yang terjadi iut ?“ Lalu mereka pergi melacak dari uung timur sampai ke ujung barat, mencari
apa gerangan yang menghalangi mereka dari mendapatkan kabar langit itu ? Maka berangkatlah mereka yang pergi ke Tihamah menuju kepada Rasulullah saw di Nikhlah hendak ke pasar ‘Ukazh, ketika itu Rasulullah saw sedang mengimami para sahabatnya dalam shalat subuh. Ketika mendengar bacaan al-Quran dengan penuh perhatian mereka mendengarkannya.
Kemudian mereka berkata,“Inilah yang menghalangi kita dari kabar langit.“ Setelah itu mereka
kembali kepada kaum mereka seraya berkata ,“ Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah
mendengarkan al-Quran (bacaan) yang menakjubkan yang menunjukkan kepada kebenaran,
lalu kami mempercayainya, dan kkami tidak menyekutukan Rabb kami dengan siapapun.“ Lalu
Allah menurunkan (ayat) kepada Nbi-Nya,“ Katakanlah ,“Telah diwahyukan kepadaku
bahwasannya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Quran) ...“

Teks yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi sama ddengan riwayat ini, hanya saja
terdapat tambahan di awal hadits : Rasulullah saw tidak membacakan kepada jin, juga tidak
melihat mereka. Ia berangkat bersama sejumlah sahabatnya.
Al-Asqalani berkata : Seolah-olah Bukhari sengaja membuang lafadzh ini, karena Ibnu
Mas’du menyebutkan bahwa Nabi saw membacakan kepada jin. Maka riwayat Ibnu Mas’du
didahulukan daripada penafikan Ibnu Abbas. Bahkan Muslim telah mengisyaratkan hal ini,
kemudian meriwayatkan hadits Ibnu Mas’du setelah hadits Ibnu Abbas ini. Nabi saw bersabda :
„ Telah datang kepadaku seorang penyeru dari bangsa jin, lalu aku berangkat bersamanya,
kemudian akau bacakan al-Quran kepadanya.“ Antara dua riwayat ini dapat dikompromikan
dengan mengatakan bahwa peristiwa terjadi beberapa kali.

Riwayat Muslim, Bukhari dan Tirmidzi ini berbeda dengan riwayat Ibnu Ishaq dalam
dua segi. Pertama, riwayat Ibnu Ishaq tidak menyebutkan bahwa Nabi saw shalat bersama para
sahabatnya. Bahkan riwayat Ibnu Ishaq menjelaskan bahwa Nabi saw shalat sendirian. Padahal
, riwayat-riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi saw mengimami sahabatnya. Kedua, riwayat
Ibnu Ishaq tidak menentukan shalat subuh, sementara riwayat-riwayat lain menyebutkannya.
Menyangkut riwayat Ibnu Ishaq tidak ada masalah. Tetapi menyangkut riwayat-riwayat
lain timbul dua kemusykilan. Pertama, Nabi saw berangkat ke Thaif dan pulang darinya, s
ebagaimana anda ketahui hanya disertai oleh Zaid bin Haritsa. Maka bagaimana mungkin Nabi
saw shalat bersama para sahabatnya ? Kedua , shalat lima waktu tidak disyariatkan kecuali
setelah Isra’ MI’raj sedangkan Isra’Mi’raj terjadi setelah hijrah Rasulullah saw ke Thaif
menurut pendapat Jumhur . Maka bagaimana mungkin Rasulullah saw melaksanakan shalat
subuh pada waktu itu ?
menyangkut kemusykilan pertama dapat dijawab, bahwa mungkin saja Rasulullah saw
ketika sampai di Nihlah (sebuah tempat dekat Mekkah) bertemu dengan para sahabatnya , lalu
shalat subuh bersama mereka di tempat tersebut.
Menyangkut kemusykilan kedua dapat dijawab bahwa peristiwa mendengarnya jin terhadap bacaan al-Quran ini terjadi lebih dari sekali. Pernah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan
pernah juga diriwayatkan oleh Ibnu Mas’du. Kedua riwayat ini sama-sama sahih. Dan pendapat

inilah yang diambil oleh jumhur ulama peneliti. Ini jika kita mengikuti pendapat yang
mengatakan bahwa peristiwa Isra’ dan MI’raj terjadi setelah hijrah ke Thaif. Tetapi jika kita
mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi sebelum hijrah ke Thaif, maka
tidak lagi ada kemusykilan.

Yang perlu kita ketahui, setelah penjelasan di atas bahwa setiap Muslim wajib
mengimani adanya jin, dan bahwa mereka adalah makhluk hidup yang juga dibebani oleh Allah
untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana kita, kendatipun semua indera kita tidak dapat
menjangkaunya. Sebab Allah memang menjadikan eksistensi merekae di luar jangkauan
kemampuan mata kita. Apalagi , mata kita hanya bisa melihat beberapa benda t ertentu, dengan
ukuran tertentu , dan dengan syarat-syarat tertentu.
Karena keberadaan makhluk ini didasarkan atas berita yang mutawatir dari al-Quran
dan Sunnah, maka kaum Muslim telah sepakat bahwa setiap orang yang mengingkari atau
meragukan keberadaan jin adalah murtad dan keluar dari Islam. Sebab mengingkari sesuatu
yang bersifat aksiomatik di dalam islam, di samping merupakan pendustaan terhadp kahabr
mutawatir yang datang kepada kita dari Allah dan Rasul-Nya.

Jangan sampai ada orang berakal sehat yang terjerumus ke dalam kedunguan karena
tidak mau meyakini sesuatu yagn tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, kemudian menolak
keberadaan jin hanya karena dia tidak melihat jin.
„Kebodohan intelektual“ seperti ini akan mengharuskan pengingkaran terhadap setiap
benda atau makhluk ghaib h anya karena tidak dapat dilihat. Padahal kaidah ilmiah yang sudah
terkenal mengatakan :Tidak dapat dilihatnya sesuatu tidak berarti tidak adanya sesuatu
tersebut.

Kelima, apa pengaruh semua peristiwa disaksikan dan dialami oleh Rasulullah saw selama
perjalannya ke Thaif ini pada dirinya ?
Jawabannya , terhadap pertanyaan ini nampak jelas dalam jawaban Rasulullah saw
kepada Zaid bin Haritsa ketika Zaid bertanya kepadanya dengan penuh keheranan :
„Bagaimana engkau hendak pulang ke Mekkah, wahai Rasulullah saw , sedangkan
penduduknya telah mengusir engkau dari sana?“
Dengan tenang dan penuh keyakinan Rasulullah saw menjawab : „Hai Zaid !Sesungguhnya Allah-lah yang akan memberi kita jalan keluar sebagaimana yang akan engkau lihat nanti. Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan membela Nabi-Nya.
Jelas bahwa semua yang disaksikan dan dialaminya di Thaif setelah penyiksaan dan
penganiayaan yang dialaminya di mekkah, tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap
keyakinannya kepada Allah, atau melemahkan kekuatan teakadnya yang positif di dalam
jiwanya

Demi Allah ! Ini bukanlah ketabahan manusia biasa yang memiliki kekuatan lebih dalam
menghadapi penderitaan dan tekanan. Tetapi ia adalah keyakinan Nubuwwah yang telah
menghujam dalam di dalam hatinya. Rasulullah saw mengetahui bahwa segala tindakkannya itu
semata-mata untuk menjalankan perintah Allah dan berjalan di atas jalan ynag diperintahkanNya , beliau tidak pernah ragu sedikitpun bahwa Allah pasti akan memenangkan urusan-Nya,
dan bahwa Dia telah menjadikan ketentuan bagi tiap sesuatu.
Pelajaran yang dapat kita ambil dalam hal ini, bahwa semau penderitaan dan rintangan
yang ada di jalan dakwah Islam tidak boleh menghalangi atau menghentikan perjuangan kita,
atau mengakibnatkan kegentaran dan kemalasan dalam diri kita, slama kita berjalan di atas
petunjuk keimanan kepada Allah. Siapa saja yang telah mengambil bekal kekuatannya dari
Allah, maka dia tidak akan pernah mengenal putus asa atau malas. Selama Allah yang
memerintahkan, pasti Dia akan menjadi penolong dan pembela.
Kehinaan, kemalasan dan putus asa akibat penderitaan dan rintangan, hanya akan
dialami oleh orang yang menganut prinsip dan ideologi yang tidak diperintahkan Allah. Sebab
mereka hanya mengandalkan kepada kekuatannya sendiri, kekuatan manusia yang serba
terbatas. Segala bentuk kekuatan dan ketabahan manusia akan berubah dan terancam
kehancuran dan kelesuan manakala mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang panjang
mengingat ukuran kekuatan manusia yang serba terbatas.



Mu’jizat Isra’ dan Mi’raj
Isra’ ialah perjalanan Nabi saw dari Masjidil al-Haram di Mekkah ke Masjidil al-Aqsha
di al-Quds. Mi’raj ialah kenaikan Rasulullah saw menembus beberapa lapisan langit tertinggi
sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, Malaikat, manusia dan jin .
Semua itu ditempuh dalam sehari semalam.
Terjadi silang pendapat tentang sejarah terjadinya mu’jizat ini. Apakah pada tahun
kesepuluh kenabian ataukah sesudahnya? Menurut riwayat Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya
peristiwa ini terjadi delapan belas bulan sebelum hijrah.
Jumhur kaum Muslim sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan Rasulullah saw dengan
jasad dan ruh. Karena itu, ia merupakan salah satu mu’jizatnya ynag mengagumkan yang
dikaruniakan Allah kepadanya.

Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Bukhari dan Muslim secara lengkap dalam shahihnya. Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini Rasulullah saw menunggang Buroq yakni
satu jenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta.
Binatang ini berjalan denganlangkah sejauh mata memandang. Diebutkan pula bahwa Nabi saw
memasuki Masjidil l-Aqsha lalu shalat dua raka’at di dalamyna. Kemudian Jibril datang
kepadanya seraya membawa segelas khamar dan segelas susu. Lalu Nabi saw memilih susu.
Setelah itu Jibril berkomentar ,“Engkau telah memilih fitarh.“ Dalam perjalanan ini Rasulullah
saw naik ke langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai ke Sidratul-Muntaha. Di
sinilah kemudian Allah mewahyukan kepadanya apa yang telah diwahyukan di antaranya
kewajiban shalat lima waktu atas kaum Muslim, dimana pada awalnya sebanyak lima puluh kali
sehari semalam.

Keesokan harinya Rasulullah saw menyampaikan apa yang disaksikan kepada penduduk
Mekkah. Tetapi oleh kaum musyrik berita ini didustakan dan ditertawakan. Sehingga sebagian
mereka menantang Rasulullah saw untuk menggambarkan Baitul -maqdis, jika benar ia telah
pergi dan melakukan shalat di dalamnya. Padahal ketika menziarahinya, tidak pernah terlintas
dalam pikiran Rasulullah saw untuk menghafal bentuknya dan menghitung tiang-tiangnya.
Kemudian Allah swt memperlihatkan bentuk dan gambar Baitul-maqdis di hadapan Rasulullah
sw sehingga dengan mudah beliau menjelaskannya secara rinci.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :
„Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Isma’il), lalu Allah
memperlihatkan Baitul-Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang
tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat.

Berita ini oleh sebagian kaum musyrik disampaikan kepada Abu Bakar dengan harapan
dia akan menolaknya. Tetapi ternyata Abu Bakar menjawab,“Jika memang benar Muhammad
yang mengatakannya, maka dia telah berkata benar dan sungguh aku membenarkan lebih dari
itu.“
Pada pagi harinya di malam Isra’ itu Jibril datang kepada Rasulullah saw mengajarkan
cara shalat dan menjelaskan waktu-waktunya. Sebelum disyariatkannya shalat lima aktu ,
Rasulullah saw melakukan shalat dua ra’kaat di pagi hari dan dua raka’at di sore hari
sebagaimana dilakukan oleh Ibrahim as.


Beberapa Ibrah
Pertama : Penjelasan tentang Rasul dan Mu’jizat
Banyak penulis yang begitu gemar menggambarkan kehidupan Rasulullah saw sebagai
kehiduapn manusia biasa, jauh dari hal-hal ynag luar biasa dan mu’jizat. Bahkan tidak
memperhatikan sama sekali adanya kemu’jizatan dalam kehidupan nabi saw dengan berdalil
kepada ayat :
„Katakanlah ,“Sesungguhnya mu’jizat itu hanya berada di sisi Allah .....“ QS al-An’am :

Gambaran seperti ini akan memberikan kesan kepaa para pembaca bahwa Sirah
Rasulullah saw sama sekali jauh dari mu’jizat dan bukti-bukti yang biasanya digunakan Allah
untuk mendukung para Nabi-Nya yang jujur dan benar.
Jika kita telusuri sumber „teori“ tentang Rasulullah saw ini ternyata kita dapati berasal
dari pemikiran sebagian orientali dan peneliti asing, seperti Gustav Lobon, August Comte dan
Goldzieher dan teman-temannya. Timbulnya teori ini disebabkan oleh tidak adanya keimanan
kepada pencipta mu’jizat. Sebab jika keimanan kepada Allah telah menghujam di dalam hati,
maka akan mudah untuk meyakini segala sesuatu. Bahkan tidak akan ada lagi di dunia ini
sesuatu yang berhak disebut mu’jizat.

Kemudian pemikiran-pemikiran asing yang dikemukakan oleh sebagian pemikir muda
Muslim ini oleh para musuh Islam, khususnya orientalis , dijadikan alat utuk membuka medan-medan dan ladang-ladang baru untuk melakuan ghazwul fikri dan menimbulkan keraguan kaum
Muslim terhadap agamanya . Senjata bagi serbuan langsung terhadap aqidah Islamiyah dan
penanaman pemikiran-pemikiran sekuler di benak kaum Muslimin.

Demikianlah mereka mulai memberikan sifat-sifat tertentu kepada Rasulullah saw ,
seperti heroik, jenius, pahlawan, dan pemimpin dalam arti kata yang serba menakjubkan. Pada
waktu yang sama mereka menggambarkan kehidupan umum Rasulullah saw jauh dari mu’jizat
dan hal-hal yang luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran, sehingga dengan
demikian akan tercipta suatu gambaran baru tentang diri Nabi saw, di dalam benak kaum
Muslim. Kadang mereka menamakan Rasulullah saw sebagai seorang jeius, atau seorang
komandan, atau seorang pahlawan. Tetapi sesuatu yang tidak boleh muncul sama sekali adalah
gambaran bahwa Muhammad saw sebagai seorang Nabi dan Rasul. Sebab semua hakekat
kenabian dan segala hal yang berkaitan dengannya seperti wahyu, mu’jizat dan hal-hal yang
luar biasa lainnya telah dibunag melalui penonjolan istilah-istilah tertentu, seperti jenius dan
pahlawan yang jauh dari mu’jizat ke dalam keranjang mitologi atau dongeng-dongeng yang
sudah usang. Ini karena mereka menyadari bahwa fenomena wahyu dan kenabian merupaakan
puncak kemu’jizatan.

Pada saat itulah akan muncul anggapan bahwa sebab kemajuan dakwah Rasulullah saw
dan banyaknya pengikut yang setia kepadanya, adalah kaerne faktor kejeniusan dan
kepahlawanannya. Perhatikanlah !Sesungguhnya sasaran yang ingin mereka capai ini nampak
jelas ketika mereka memasarkan istilah „Muhammadaniest“ sebagai danti dari Muslimin.
Tetapi sejauh manakah kebenaran gambaran tentang diri Muhammad saw ini dalam
kacamata kajian yang objektif dan logis?

Pertama, jika kita perhatikan kembali fenomena wahyu ynag nampak dengan jelas pada
kehidupan Rasulullah saw (pada bab terdahulu telah dijelaskan secara rinci), nyatalah bagi kita
bahwa sifat-sifat yang paling menonjol dalam kehidupannya ialah sifat kenabian. Kenabian
adalah termasuk nilai-nilai keghaiban yang tidak mengikuti kriteria-kriteria kita yang bersifat
empirik. Dengan demikian arti mu’jizat yang diluar kebiasaan itu tetap ada pada pangkal
keberadaan Nabi saw. Tidak mungkin kita menolak mu’jizat dan hal-hal yang luar biasa dari
kehidupan Nabi saw , kecuali dengan menghancurkan makna kenabiasn itu sendiri dari
kehidupannya. Ini berarti juga penolakkan terhadap agama itu sendiri, kendatipun kesimpulan
ini tidak disebutkan secara eksplisit oleh sebagian orientalis dan cukup dengan menjelaskan
kejeniusan dan keberanian Rasulullah saw . Mereka tidak perlu lagi menjelaskan kesimpulan
karena telah cukup dengan muqaddimah. Kesimpulan akan terbentuk secara otomatis setelah
diteirma muqaddimahnya.

Namun banyak pula di antara mereka yang seara terus terang menyebutkan „kesimpulan“ karena kebencian yang tak tertahankan lagi. Seperti Syibli Syamil ketika menamakan keimanan kepada agama dengan „keimanan kepada mu’jizat yang mustahil“ Dengan demikian tidak ada gunanya lagi membahas keingkaran atau keimanan mereka terhadap mu’jizat , karena sejak awal mereka sudah meragukan atau menolak dasar agama itu sendiri.

Kedua, jika kita perhatikan Sirah kehidupan Rasulullah saw , maka akan kita dapati
bahwa Allah telah memberikan banyakmu’jizat kepada Nabi saw. Keberadaan dan kebenaran
mu’jizat-mu’jizat ini tidak dapat kita tolak begitu saja, karena peristiwa-peristiwa mu’jizat itu
disampaikan kepada kita dengan sanad-sanad yang shahih dan mutawatir yang mencapai
tingkatan pasti dan yakin.

Antara peristiwa memancarnya air dari jari-jari Rasulullah saw yang mulia. Peristiwa
ini diriwayatkan oleh Bukhari di dalam bab Wudhu’, Muslim di dalam bab al-Faha’il
(keutamaan), Malik di dalam al-Muqaththa’, dan imam-imam hadits lainya dengen beberapa
jalan yang berlainan. Sehingga az-Zarqani meriwayatkan perkataaan al-Qurthubi :
Sesungguhnya peristiwa memancarnya air dari jari-jari Rasulullah saw berulang-ulang di
beberapa tempat. Peristiwa ini juda diriwayatkan dari jalan yang banyak, yang semuanya
mencapai tingkatan pasti, bahkan dapat dikatakan mutawatir ma’nawi.

Mu’jizat Rasulullah saw lainnya ialah peristiwa terbelahnya bulan pada masa Nabi saw
ketika orang-orang musyrik memintanya. Perisitwa ini diriwayatkan oleh Bukhari di dalam bab
Ahaditsul-Anbiya, Muslim di dalam bab Shifatul - Qiyamah dan imam -imam hadits lainnya.
Berkata Ibnu Katsir ;“Peristiwa ini diriwayatkan oleh hadits-hadits yang mutawatir dengan
sanad-sanad yang shahis.“ Para ulama telah sepakat bahwa peristiwa ini terjadi pada masa Nabi
saw dan merupakan salah satu mu’jizat yang mengagumkan.

Dan peristiwa Isra’ Mi’raj yang sedang kita bahas ini juga merupakan salah satu mu’jizat Nabi saw, bahkan sebagian besar kaum Muslimin telah sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj ini termasuk mu’jizat Nabi saw yang terbesar. Tetapi anehnya orang-orang yang memberikan sifat jenius kepada Rasulullah saw dan menolak apa yang disebut mu’jizat dari kehidupannya , berpura-pura tidak mengetahui hadits-hadits mutawatir yang mencapai tingkat derajat Qath’i (pasti) ini: Mereka tidak pernah mau menyinggungnya sama sekali, bai dalam konteks positif ataupun negatif. , seolah-olah kitab-kitab hadits tidak pernah memuatnya. Padahal masing-masingnya diriwayatkan lebih dari sepuluh jalan (sanad).

Penyebab utama daris ikap tidak mau tahu ini ialah karena mereka ingin menghindari
kemusykilan yang akan mereka hadapi manakala membaa hadits-hadits tentang mu’jizat ini.
Sebab hadits-hadits ini bertentangan diametral dengan teori ang ada di kepala mereka.

Ketiga, mu’jizat ialah sebuah kata yang jika direnungkan tidak memiliki definisi yang
berdiri sendiri. Ia hanya suatu makna yang nisbi. Menurut istilah yang sudah berkembang,
mu’jizat ialah setiap perkara yang luar biasa. Sedangkan setiap kebiasaan pasti akan
berkembang mengikuti perkembangan jaman dan berlainan sesuai dengan perbedaan
kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Mungkin sesuatu pada masa tertentu, dianggap sebagai
mu’jizat pada masa sekarang sudah menjadi hal biasa. Atau mungkin sesuatu yang biasa di
lingkungan orang-orang yang sudah maju, masih menjadi mu’jizat di kalangan orang-orang
primitif.

Tetapi yang benar, bahwa sesuatu yang biasa dan yang luar biasa itu pada dasarnya
adlah mu’jizat. Galaksi ada mu’jizat planet adalah mu’jizat , hukum gaya tarik aglaah mu’jizat ,
peredaran darah adalah mu’jizat, ruh adalah mu’jizat dan manusia itu sendiri adlaah mu’jizat.
Sungguhn tapat ketiak seorang ilmuwan Prancis, chatubriant menamakan manusia ini dengan
makhluk metafisk, yakni makhluk ghaib yang misterius.

Hanya saja , manusia telah melupakan karena terlalu lama dan sering menghadapi dan
merasakannya segi mu’jizat dan nilainya. Kemudian mengira , karena kebodohannya, bahwa
mu’jizat ialah sesuatu yang mengejutkan dan di luar kebiasaan ini dijadikan ukuran keimanan
atau penolakan terhadap sesuatu . Ini adalah kebodohan manusia yang aneh pda abad ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Seandainya manusia mau berpikir lebih jauh sedikit, niscaya akannampak baginya
bahwa Allah yang menciptakan mu’jizat seluruh alam semesta ini tidak pernah kesulitan untuk
menambahkan mu’jizat lain, atau mengganti sebagian sistem yang telah berjalan di dalam
semsta ini. Seorang orientalis , William Johns pernah sampai kepada pemikiran seperi ini ketika
mengatakan :
„Kekuatan yang telah menciptakan alam semesta ini tidak pernah kesulitan untuk
membuang atau menambahkan sesuatu kepadanya. Adakah mudah untu dikatakan bahwa
masalah ini tidak dapat digambarkan oleh akal. Tetapi yang harus dikatakan bahwa masalah ini
tidak tergambarkan, bukan tidak dapat digambarkan sampai ke tingkat adanya alam.“

Maksudnya seandainya alam ini tidak ada, kemudian dikatakan kepada seseorang yang
mengingkari mu’jizat dan hal-hal ynag luar biasa, dan tidak dapat menggambarkan
keberadaannya. Akan ada alam. Niscaya dia akan langsung menjawab,“Ini tidak mungkin dapat
digambarkan.“ Penolakkannya terhadap gambaran seperti ini akan lebih keras ketimbang
penolakkannya terhadap gambaran adanya mu’jizat.

Inilah yang harus dipahami oleh setiap Muslim, baik mengenai Rasulullah saw ataupun
mu’jizat-mu’jizat yang dikaruniakan Allah kepadanya.
Kedua : Kedudukan Mu’jizat Isra’ dan Mi’raj di antara peristiwa-peristiwa yang telah dialami
Rasullah saw pada waktu itu.
Rasulullah saw telah merasakan berbagai penyiksaan dan gangguan yang dilancarkan
kaum Quraisy kepadanya. Di antara penderitaan yang terakhir (sampai terjadinya Isra’ dan
MI’raj) ialah apa yang dialaminya ketika hijrah ke Thaif ynag telah dijelaskan pada bab
terdahulu. Perasaan tidak berdaya sebagai manusia, dan betapa perlunya kepada pembelaan,
terungkapkan seluruhnya di dalam doa nabi saw yang diucapkannya setelah tiba di kebun kedua
anak Rabi’ah. Suatu ungkapan yang menggambarkan ubudiyah kepada Allah. Dlam
munajatnya ini pula terungkap makna pengaduan kepada Allah dan keingingannya untuk
mendapatkan penjagaan dan pertolongan-Nya. Bahkan ia khawatir jangan-jangan apa yang
dialaminya ini karena murka Allah kepadanya. Karenanya, diantara untaian doanya , terucapkan
kalimat :
„Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua ini tidak aku hiraukan. „ Kemudian setelah itu datanglah „undangan“ Isra’ dan Mi’raj sebagai penghormatan dari Allah, dan penyegaran semangat dan ketbahannya. Di samping sebagai bukti bahwa apa yang baru dialaminya dalam perjanana hijtah ke thaif bukan karena Allah murka atau melepaskannya, tetapi hanya merupakan Sunnahtullah yang harus berlaku pada para kekasih-Nya . Sunnah dakwah Islamiyah pada setiap masa dan waktu.

Ketiga, Makna yang terkandung dalam perjalanan isra’ ke baitul-Maqdis
Berlangsungnya pernajalan Isra’ ke Baitul-Maqdis dan Mi’raj ke langit ketujuh dalam
rentang waktu yang hampir bersamaan, menunjukkan betapa tinggi dan mulia kedudukan
Baitul-Maqdis di sisi Allah. Juga merupakan bukti nyata akan adanya hubungan yang sangat
erat antara ajran Isa as dan ajaran Muhammad saw. Ikatan agama yang satu yang diturunkan
Allah kepada para Nabi as.
Peristiwa ini juga memberikan isyarat bahwa kaum Muslim di setiap tempat dan waktu
harus menjaga dan melindungi rumah suci (Baitul-Maqdis) ini dari keserakahan musuh-musuh
Islam. Seolah-olah hikmah Ilahiyah ini mengingatkan kaum Muslim jaman sekarang agar tidak
takut dan menyerah menghadapi kaum Yahudi yang tengah menodai dan merampas rumah suci
ini, utuk membebaskannya dari tangan-tangan najis, dan mengembalikannya kepada pemiliknya
kaum Muslimin.

Siapa tahu ? Barang kali peristwia Isra’ yang agung inilah yynag telah mengerahkan
ShalahudDin al -Ayyubi untuk mengerahkan segala kekuatannya melawan serbuan-erbuan Salib
dan mengusirnya dari rumah Suci ini.

Keempat: pilihan Nabi saw terhadap minuman susu, ketika Jibril menawarkan dua jenis
minuman , susu dan khamar, merupakan isyarat secara simbolik bahwa Islam adalah agama
fitrah . Yakni agma yang aqidah dan seluruh huumnya sesuai dengan tuntutan fitrah manusia.
Di dalam Islam tidak ada sesuatu puny ang bertentangan dengan tabiat manusia. Seandainya
fitrah berbentuk jasad , niscaya Islam akan menjadi bajunya yang pas.
Faktor inilah yang menjadi rahaia mengapa Islam begitu cepat tersebar dan diterima
manusia. Sebab betapapun tingginya budaya dan peradaban manusia, dan betapapun menusia
telah mereguk kebahagiaan material, tetapi ia akan tetap menghadapi tuntutan pemenuhan
fitrahnya. Ia tetap cenderung ingin melepaskan segala bentuk beban dan ikatan-ikatan yang
jauh dari tabiatnya. Dan Islam adalah satu-satunya sistem yang dapat memenuhi semua
tuntutan fitrah manusia.

Kelima, Jumhur Ulama baik salaf ataupun kahlaf telah sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj
dilakukan dengan jasad dan ruh oleh Nabi saw.
Imam Nawawi berkata di dalam Syarhu Muslim,“Pendapat yang benar menurut
kebanyakan kaum Muslim, Ulama Salaf, semua Fuqaha, ahli hadits dan ahli ilmu tauhid , adalah
bahwa Nabi saw diisra’kan dengan jasad dan ruhnya. Semua nash menunjukkan hal ini, dan
tidak boleh ditakwolkan dari arti zhahirnya, kecuali dengan dalil.
Ibnu Hajar di dalam Syarahnya terhadap Bukhari berkata ,“ Sesungguhnya Isra’ dan
Mi’raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah
yang diikuti oleh Jumhur Ualama, ahli hadits , ahli fiqih, dan ilmu kalam. Semua arti zhahir dari
hadits-hadits shahih menunjukkan pengertian tersebut, dan tidak boleh dipalingkan kepada
pengertian lain, karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk menakwilkannya. „

Antara dalil yang secara tegas menunjukkan bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan dengan
jasad dan ruh, ialah sikap kaum Quraisy yang menentang keras kebenaran peristiwa
ini.Seandainya peristiwa ini hanya melalui mimpi , kemudian Rasulullah saw menyatakannya
demikian kepada mereka, niscaya tidak akan mengundang keberanian dan pengingkaran
sedemikian rupa. Sebab penglhatan dalam mimpi itu tidak ada batasnya. Bahkan mimpi seperti
itu , pada waktu itu bisa saja dialami oelh orang Muslim dan kafir. Seandainya peristiwa ini
hanya dilakukan dengan ruh saja, niscaya mereka tidak akan bertanya tentang gambaran baitul-
Maqdis untuk memastikan dan menentanngnya.
Mengenai bagaimana mu’jizat ini berlangsung , dan bagaimana akal dapat
menggambarkannya, maka sesungguhnya mu’jizat ini tidak jauh berbeda dari mu’jizat alam
semesta dan kehidupan ini. Telah kamis ebutkan , bahwa setiap fenomena-fenomena alam
semesta ini dengan mudah dapat digambarkan dan diterima akal manusia, mengapa mu’jizat ini
tidak dapat diterima pula dengan mudah ?

Keenam, Ketika membahas kisah Isra’ dan Mi’raj ini, hati-hatilah dan jauhkanlah diri anda dari
apa yang disebut dengan „Mi’raj Ibnu Abbas“. Buku ini berisi kumpulan cerita palsu yang tidak
memiliki sandaran kebenaran sama sekali. Penulisnya telah berdusta besar atas nama Ibnu
Abbas. Setiap orang yang terpelajar dan berakal sehat pasti mengetahui bahwa Ibnu Abbas r.a.
bebas dari segala kedustaan yang ada di dalam buku tersebut.

No comments:

Post a Comment

Tetamu